Selasa, 30 Juni 2009

Proposal (Penerapan Model Inkuiri Un tuk Meningkatkan Pemahaman Siswa Pada Pelajaran IPA)

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Dalam kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) Sekolah Dasar (SD) 2006 salah satu program pengajarannya adalah mata pelajaran ilmu pengetahuan alam (IPA) atau SAINS.
Salah satu fungsinya adalah untuk membekali peserta didik dengan kemampuan berfikir logis, analisis, sistematis, kritis, dan kreatif serta mampu bekerja sama. Kompetensi tersebut diperlukan agar peserta didik dapat memiliki kemampuan memperoleh, mengelola dan memanfaatkan informasi untuk bertahan hidup pada keadaan yang selalu bersabar, tidak pasti dan kompetitif.
Berdasarkan kurikulum tersebut bahwa dalam pembelajaran IPA untuk membekali dan melatih siswa dengan kemampuan berfikir logis, kritis, dan sistematis serta diciptakan pembelajaran IPA yang aktif, kreatif dan bermakna bagi siswa dengan memanfaatkan prasarana yang ada. Adapun salah satu standar kompetensi hubungan antara struktur bagian tumbuhan dengan fungsinya berdasarkan KTSP di kelas IV adalah tentang struktur dan fungsi bagian tumbuhan.
Dalam pelaksaannya untuk mencapai tujuan pembelajaran IPA dan kompetensi – kompetensinya yang harus dikuasai siswa tersebut, diperlukan satu model pembelajaran yang dapat membelajarkan siswa secara aktif, kreatif dan menyenangkan sesuai dengan tahap perkembangan siswa, sehingga dengan model pembelajaran seperti itu diharapkan dapat diperoleh hasil pembelajaran yang bermakna bagi siswa.
Pembelajaran dikatakan bermakna bagi siswa jika siswa dapat memahami dan mengerti konsep – konsep yang sedang dipelajarinya ke dalam situasi apapun sesuai dengan pendapat Suparno (Herumen, 2007 : 5) tentang belajar bermakna yaitu “…Kegiatan siswa menghubungkan atau mengkaitkan informasi itu pada pengetahuan berupa konsep – konsep yang telah dimilikinya”
Sebagaimana teori J.S Bruner mengatakan bahwa membagi proses belajar anak dalam tiga tahapan, yaitu :
a. Tahapan kegiatan (Enaktive)
Pada tahap ini, anak belajar konsep melalui benda riil atau mengalami peristiwa di sekitarnya. Anak daalam belajar masih menggunakan cara gerak reflek, coba – coba, dan belum harmonis. Ia melakukan manipulasi benda – benda dengan cara menyusun, menjejerkan, mengotak – atik atau gerak lain bersifat coba – coba.
b. Tahap Gambar Bayangan (Iconic)
Pada tahap ini, anak telah dapat mengubah, menandai dan menyimpan peristiwa atau benda riil dalam bentuk baying mental dibenaknya.
c. Tahap Simbolik (Symbolic)
Pada tahap terakhir anak dapat menyatakan bayangan mentalnya dalam bentuk symbol dan bahasa, sehingga mereka sudah memahami simbol – symbol dan menjelaskan dengan bahasanya (Subarinah, 2006 : 4)
Jean Piaget menyatakan teorinya tentang perkembangan mental anak, dalam teorinya tahap berfikir anak dibagi menjadi 4, yaitu :
a. Tahap sensorik motorik (usia kurang dari 2 tahun)
b. Tahap peta operasi (usia antara 2 sampai 7 tahun)
c. Tahap operasi konkret (usia antara 7 sampai 11 tahun)
d. Tahap operasi formal (usia 11 sampai ke atas)
(Subarinah, 2006 : 2-3)
Jadi, siswa SD di Indonesia pada umumnya berusia 7 – 12 tahun, sehingga terletak pada tahap opersi kongkret. Oleh karenanya sebaiknya pembelajaran IPA di SD di buat kongkret.
Berdasarkan pendapat dan teori para ahli tersebut dapat disimpulkan bahwa pembelajaran dapat bermakna bagi siswa jika siswa melibatkan secara aktif sebagai subjek pembelajaran, siswa mengalami apa yang dipelajarinya sehingga menemukan sendiri konsep – konsep yang dipelajarinya, dan siswa membangun pengetahuannya berdasarkan pengalaman yang dimilikinya. Selain itu, materi pelajaran yang sesuai dengan perkembangan anak dan memanfaatkan media serta sumber belajar yang mendukung sangat diperlukan untuk penanaman pemahaman dan penguasaan konsep yang dipelajarinya
Dari hasil observasi di lapangan menunjukkan bahwa siswa kelas IV SDN Kepunduan Kecamatan Dukupuntang Kabupaten Cirebon belum mampu menguasai pelajaran IPA pada materi pembelajaran struktur dan fungsi bagian – bagian tumbuhan.
Penyebab ketidakberhasilan siswa tersebut dikarenakan dalam proses pembelajaran guru hanya berceramah, guru lebih dominant menjelaskan materi sehingga siswa tidak banyak terlibat aktif. Buku paket IPA adalah salah satu sumber. Materi pelajaran yang dipelajari hanya informasi dari guru yang bersifat hafalan tanpa siswa mengerti prosesnya bagaimana memperoleh pemahaman tentang materi pelajaran tersebut.
Dengan kondisi seperti itulah maka dipandang perlu untuk mengadakan pembaharuan dalam pembelajaran untuk mengatasi permasalahan di atas setelah menganalisis faktor penyebab dari kurang keberhasilan siswa tersebut.
Dalam melaksanakan tugasnya secara profesional, guru memerlukan wawasan yang mantap dan utuh tentang kegiatan belajar – mengajar. Seorang guru harus memiliki gambaran secara menyeluruh mengenai bagaimana proses belajar – mengajar itu terjadi serta langkah – langkah apa yang diperlukan sehingga tugas – tugas keguruannya bisa dilakukan dengan baik dan memperoleh hasil sesuai tujuan yang diharapkan.
Salah satu wawasan yang perlu dimiliki guru adalah strategi belajar mengajar yaitu garis besar haluan bertindak dalam rangka mencapai sasaran yang telah digariskan. Dengan strategi tersebut, guru mempunyai pedoman berkenaan dengan berbagai alternatif pilihan yang mungkin, dapat, atau harus ditempuh supaya kegiatan belajar – mengajar itu berlangsung secara teratur, sistematis, terarah, lancar dan efektif.
Menurut Tabrani Rusyan dkk, terdapat berbagai masalah sehubungan dengan strategi belajar – mengajar yang diantaranya adalah memilih sistem belajar mengajar dimana didalamnya terdapat model pembelajaran ”INKUIRI”
Dengan model pembelajaran inkuiri ini yang diharapkan akan mampu meningkatkan hasil belajar siswa pada materi pembelajaran struktur dan fungsi bagian – bagian tumbuhan.
Model pembelajaran inkuiri merupakan model pembelajaran yang menganut prinsip pengetahuan yang ada dalam diri siswa diupayakan diperoleh dari proses menemukan, bukan diberi oleh guru atau siswa menghafal fakta – fakta sehingga pengetahuan yang diperoleh siswa dari proses menemukan dan bermakna akan bertahan lebih lama bahkan membekas dalam ingatan siswa.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, penulis mencoba merumuskan masalah ;
a. Bagaimana gambaran penerapan model inkuiri dalam pelajaran IPA pada materi pembelajaran struktur dan fungsi bagian – bagian tumbuhan?
b. Bagaimana keberhasilan penerapan model inkuiri dalam pelajaran IPA pada materi pembelajaran struktur dan fungsi bagian – bagian tumbuhan?
C. Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian dalam penelitian ini adalah :
a. Untuk mengetahui gambaran penerapan model inkuiri dalam pelajaran IPA pada materi pembelajaran struktur dan fungsi bagian – bagian tumbuhan
b. Untuk mengetahui sejauh mana tingkat keberhasilan penerapan model inkuiri dalam pelajaran IPA pada materi pembelajaran struktur dan fungsi bagian – bagian tumbuhan

D. Batasan Istilah
Untuk mempelajari bahasan penelitian ini, peneliti melakukan batasan istilah yang berkaitan dengan judul, yaitu :
1. Model pembelajaran inkuiri adalah rangkaian kegiatan pembelajaran yang menekankan pada proses berfikir secara kritis dan analitis untuk mencari dan menemukan sendiri jawaban dari suatu masalah yang dipertanyakan (Sanjaya,2006:194)
2. Pada umumnya tumbuhan terdiri atas ; akar, batang, dan daun. Namun, ada pula tumbuhan yang memiliki bunga dan buah.

E. Manfaat Penelitian
Dengan penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat sebagai berikut :
1. Dengan model pembelajaran inkuiri dapat melatih siswa dalam menemukan suatu pelajaran IPA pada materi pembelajaran struktur dan fungsi bagian – bagian tumbuhan, sehingga pembelajaran tersebut akan tertanam dengan baik pada benak siswa, karena pembelajaran yang dilakukan bermakna bagi mereka.
2. Dengan menggunakan model pembelajaran inkuiri dapat memberikan masukan khususnya bagi peneliti umumnya kepada guru tentang alternatif dalam pelajaran IPA pada materi pembelajaran struktur dan fungsi bagian – bagian tumbuhan
3. Melahirkan kreatifitas dalam model pembelajaran yang lebih variatif melalui penerapan model inkuiri, karenanya dalam pelajaran IPA pada materi pembelajaran struktur dan fungsi bagian – bagian tumbuhan menggunakan model inkuiri, juga dapat diterapkan dalam pembelajaran mata pelajaran lainnya.
4. Dengan menggunakan model pembelajaran inkuiri ini diharapkan dapat memberikan kontribusi dalam usaha untuk memperbaiki dan meningkatkan kualitas praktek pembelajaran.

F. Kerangka Pikiran
Belajar selalu berkenaan dengan perubahan – perubahan pada diri seseorang yang belajar, apakah itu mengarah kepada yang lebih baik atau kurang baik, direncanakan atau tidak. Hal ini terkait dalam belajar yang berbentuk interaksi dengan orang lain atau lingkungan. S. Nana (1997 : 155).
Pembelajaran aktif adalah suatu pembelajaran yang mengajak siswa untuk secara aktif dimana dengan belajar ini, siswa diajak untuk turut serta dalam semua proses pembelajaran, tidak hanya mental tapi juga fisik. Zaini Hisyam (2003 : 11 – 13)
Prestasi merupakan hasil yang diperoleh setelah melakukan suatu pekerjaan, sedangkan belajar adalah proses yang ditandai adanya perubahan pada diri seseorang. Dengan demikian pemahaman siswa terhadap pelajaran ilmu pengetahuan alam (IPA) akan baik, jika adanya kerja keras dari siwa itu sendiri dalam mengkaji dan memahami materi pelajaran yang juga dibantu factor lain seperti pemberian metode – metode yang menjadikan siswa tersebut mempunyai keinginan untuk meningkatkan belajar dan tercapainya suatu pembelajaran yaitu meningkatkan pemahaman siswa tehadap matari pembelajaran. Lebih jelasnya ditulis dalam bagan sebai berikut :




























Dengan melihat bagan di atas ini menunjukkan adanya suatu komparasi antara sebelum dan sesudah menggunakan model pembelajaran inkuiri, hal ini merupakan aktifitas yang melibatkan guru dan anak didik yang terjadi di kelas, maka dari itu seorang pendidik ( guru) dalam hal ini mencoba menerapkan model inkuiri sebagai pembelajaran aktif guna mengembangkan pemikiran siswa dalam mengungkap materi struktur dan fungsi bagian – bagian tumbuhan dalam meningkatkan pemahaman siswa.

G. Hipotesis
Hipotesis berasal dari dua penggalan kata, yaitu “hypo” yang artinya “di bawah” dan “thesa” yang artinya “kebenaran”. Jadi hipotesis sebagai suatu jawaban yang bersifat sementara terhadap permasalahan penelitian, sampai terbukti, sampai data terkumpul. (Prof. Dr. Suharsimi Arikunto : 2006 : 71). Hipotesis juga dapat diartikan sebagai jawaban sementara terhadap masalah penelitian yang secara teoritis dianggap paling mungkin tinggi tingkat kebenarannya. (S. Margono : 1997 : 68).
Berkenaan dengan itu, penulis mengambil hipotesis alternatif dan hipotesis nihilnya, sebagai berikut :
Ho = Tidak terdapat perbedaan peningkatan pemahaman siswa antara sebelum dan sesudah menggunakan model pembelajaran inkuiri
Ha = Terdapat perbedaan peningkatan pemahaman siswa antara sebelum dan sesudah menggunakan model pembelajaran inkuiri



BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Pengertian model inkuiri
Pada hakekatnya inkuiri merupakan model pembelajaran yang menganut prinsip pengetahuan yang ada dalam diri siswa diupayakan diperoleh dari proses menemukan, bukan diberi oleh guru atau siswa menghafal fakta – fakta sehingga pengetahuan yang diperoleh siswa dari proses menemukan dan bermakna akan bertahan lebih lama bahkan membekas dalam ingatan siswa.
Sedangkan menurut Piaget mendefinisikan model inkuiri adalah sebagai pembelajaran yang mempersiapkan situasi bagi anak untuk melakukan sendiri, dalam arti luas ingin melihat apa yang terjadi, ingin melakukan sesuatu, ingin menggunakan simbol – simbol dan mencari jawaban atas pertanyaan sendiri, menghubungkan penemuan yang satu dengan penemuan yang lain, membandingkan apa yang ditemukan orang lain.

B. Ruang lingkup Model inkuiri
a. Ciri utama model pembelajaran inkuiri, yaitu :
1. Inkuiri menekankan kepada aktivitas siswa secara maksimal untuk mencari dan menemukan, artinya model inkuiri menempatkan siswa sebagai subjek belajar
2. Seluruh aktivitas yang dilakukan siswa diarahkan untuk mencari dan menemukan jawaban sendiri dari suatu yang dipertanyakan, sehingga diharapkan dapat menumbuhkan sikap percaya diri (Self Belief). Dengan demikian model pembelajaran inkuiri menempatkan Guru bukan sebagai sumber belajar, akan tetapi sebagai fasilitator dan motivator belajar siswa.
3. Dapat mengembangkan kemampuan berfikir secara sistematis,logis dan kritis, atau mengembangkan kemampuan intelektual sebagai bagian dari proses mental. (sanjaya, 2006 : 194-195).
b. Kekuatan metode inkuiri, yaitu :
1. Menekankan kepada proses pengolahan informasi oleh peserta didik sendiri,
2. Membuat konsep sendiri peserta didik bertambah dengan penemuan – penemuan yang diperolehnya,
3. Memiliki kemungkinan besar untuk memperbaiki dan memperluas persediaan dan penguasaan keterampilan dalam proses kognitif peserta didik,
4. Penemuan – penemuan yang diperoleh peserta didik dapat menjadi kepemilikannya dan sangat sulit melupakannya,
5. Tidak menjadikan guru sebagai satu – satunya sumber belajar, karena peserta didik belajar dengan memanfaatkan berbagai jenis sumber belajar. (Sanjaya,2006)
c. Langkah – langkah yang ditempuh dalam pembelajaran inkuiri adalah :
1. Observasi (observation)
2. Bertanya (questioning)
3. Mengajukan dugaan (hipotesis)
4. Pengumpulan data (data gathering)
5. Penyimpulan (conclussioning)
(Nurhadi, 2002 : 12)
d. Kelebihan – kelebihan dari pembelajaran inkuiri adalah :
1. Strategi pembelajaran inkuiri merupakan pembelajaran yang menekankan kepada pengembangan aspek kognitif, efektif, dan psikomotor secara seimbang, sehingga pembelajaran melalui strategi ini dianggap lebih bermakna.
2. Strategi pembelajaran inkuiri memberikan ruang kepada siswa untuk belajar sesuai dengan gaya belajar mereka.
3. Strategi pembelajaran inkuiri merupakan strategi yang dianggap sesuai dengan perkembangan psikologi belajar modern yang menganggap belajar adalah proses perubahan tingkah laku berkat adanya pengalaman.
4. Keuntungan lain adalah strategi pembelajaran inkuiri dapat melayani kebutuhan siswa yang memiliki kemampuan di atas rata – rata. Artinya siswa yang memiliki kemampuan belajar bagus tidak akan terhambat oleh siswa yang lemah dalam belajar.
5. Tidak menjadikan guru sebagai satu – satunya sunber belajar, karena peserta didik belajar dengan memanfaatkan berbagai jenis sumber belajar.
(Sanjaya, 2006 : 206)

C. Metode inkuiri dan pemahaman siswa
Dalam permasalahan yang timbul berkait dengan kemampuan pemahaman dan kemampuan siswa dalam memahami pelajaran IPA pada materi pembelajaran struktur dan fungsi bagian- bagian tumbuhan di kelas IV maka dibutuhkan suatu rancangan pembelajaran yang berkualitas yang dapat mengatasi masalah tersebut.
Dengan berlandaskan kekuatan model inkuiri diatas tersebut, maka untuk mengatasi masalah kemampuan pemahaman dan kemampuan siswa dalam memahami suatu materi pembelajaran digunakan model inkuiri, karena selama ini siswa hanya mendengarkan ceramah dari gurunya tanpa mengetahui langsung struktur dan fungsi bagian – bagian tumbuhan sehingga pembelajaran kurang bermakna.
Secara garis besar langkah – langkah pembelajaran inkuiri adalah :
- Merumuskan masalah
- Mengajukam hipotesis
- Mengumpulkan data
- Menguji hipotesis berdasarkan data yang ditemukan
- Membuat kesimpulan.
(Dimyati, 1991 :-)
Penulis mengacu pada langkah – langkah pembelajaran inkuiri ini untuk menyelesaikan permasalahan. Selain itu juga tugas dan peran guru dalam pembelajaran inkuiri adalah sebagai pembimbing jalannya proses pembelajaran yakni dengan memberikan pertanyaan – pertanyaan (bimbingan) yang menuntut kepada proses berfikir siswa untuk menemukan jawaban seperti yang dikemukakan oleh Sanjaya (2006 : 198).
“Peran guru dalam menggunakan model inkuiri adalah sebagai penanya”. Kemampuan guru untuk bertanya dalam setiap langkah inkuiri sangat diperlukan sehingga kemampuan siswa untuk menjawab pertanyaan dari guru sudah merupakan sebagian dari proses berfikir untuk memecahkan masalah.
Berdasarkan langkah teori yang dikemukakan oleh Sanjaya, Dimyati dalam pembelajaran model inkuiri dapat dijadikan landasan dalam melaksanakan praktek pembelajaran di kelas. Dalam hal ini penulis akan mengembangkan teori tersebut yang diuraikan sebagai berikut :
a. Tahap Perencanaan
Dalam tahap persiapan guru dan siswa telah mempersiapkan segala sesuatu yang diperlukan untuk tahap pelaksanaan. Guru mempersiapkan yang harus dilakukan adalah mempersiapkan : Ranpel atau RPP, materi pelajaran, lembar kerja siswa, media pelajaran, mempersiapkan lembar penilaian untuk siswa. Sedangkan siswa mempersiapkan alat dan bahan untuk praktek seperti membawa tumbuh – tumbuhan.
b. Tahap Pelaksanaan
Tahap pelaksanaan merupakan penerapan dari langkah – langkah kegiatan model inkuiri, langkah – langkah tersebut dapat dikembangkan menjadi langkah – langkah pembelajaran atau scenario pembelajaran yang dituangkan dalam RPP.
Dengan berlandaskan model inkuiri, kegiatan pembelajaran meliputi langkah – langkah sebagai berikut :
1. Guru terlebih dahulu menginformasikan kepada siswa topik, tujuan, dan hasil pembelajaran yang akan dicapai
2. Guru menugaskan siswa secara berkelompok dan setiap kelompok mempunyai tugas yang berbeda – beda
3. Setiap kelompok menerima LKS dan melakukan tugas sesuai petunjuk LKS dan dikerjakan bersama kelompok masing – masing
4. Siswa melaksanakan tugas kelompoknya, kelompok I mengamati bagian akar dari tumbuhan dan dapat menemukan fungsi – fungsinya.
5. Kelompok II mengamati bagian batang dari tumbuhan dan dapat menemukan funsi – fungsinya.
6. Kelompok III mengamati bagian daun dari tumbuhan dan dapat menemukan fungsi – fungsinya
7. Kelompok IV mengamati bagian lain dari tumbuhan dan dapat menemukan fungsi – fungsinya
8. Guru merangsang supaya siswa fokus untuk memecahkan masalahnya yaitu guru memberikan permasalahan yang berkaitan dengan struktur dan fungsi bagian – bagian tumbuhan
9. Siswa diajak untuk mencari jawaban dari permasalan
10. Dari hasil kerja kelompoknya kemudian mengumpulkan data – data tentang struktur dan fungsi bagian – bagian tumbuhan
11. Siswa dari tiap – tiap kelompok perwakilan untuk ke depan kelas untuk menjelaskan apa yang sudah didapat dari hasil kerja kelompoknya dan memberi kesempatan pada kelompok lain untuk bertanya
12. Siswa dengan bimbingan guru merumuskan kesimpulan dari kegiatan pembelajaran yang telah dilaksanakan
c. Tahap Evaluasi
Evaluasi yang dilaksakan ketika proses kegiatan pembelajaran dan tes akhir atau pos test. Dalam penilaian proses dengan menggunakan instrument format observasi, sedangkan pada penilaian akhir digunakan tes berupa soal – soal struktur dan fungsi bagian – bagian tumbuhan.
Berdasarkan rumusan masalah diatas maka dapat dirumuskan hipotesis tindakan sebagai berikut : “jika pembelajaran dalam materi struktur dan fungsi bagian – bagian tumbuhan menggunakan model inkuiri, maka kemampuan siswa dalam memahami nateri tersebut di kelas IV SDN Kepunduan akan meningkat.
D. Materi pembelajaran Struktur dan fungsi bagian – bagian tumbuhan
Mahluk hidup memiliki cicr – ciri seperti dapat bernafas, bergerak, tumbuh, berkembangbiak dan memerlukan makan. Seperti mahluk hidup yang lain, tumbuhan juga memiliki bagian – bagian yaitu akar, batang, daun dan bagian yang lainnya yaitu bunga, buah dan biji. Setiap bagian dati tumbuhan tersebut mempunyai fungsi – fungsi tertentu. Fungsi bagian – bagian tumbuhanberkaitan dengan kegiatan bernafas, bergerak, tumbuh, berkembangbiak dan makan.
Tiga pokok bagian dalam tubuh tumbuhan adalah akar, batang dan daun. Bagian lain pada tumbuhan dapat dianggap sebagai bagian pokok yang telah berubah. Bunga dianggap perubahan dari batang dan daun.
Adapun bagian – bagian dari tumbuhan itu adalah :
1. Akar
a. Struktur akar
Akar pada umumnya, terletak di dalam tanah, warnanya tidak hijau biasanya keputih – putihan atau kekunig – kunungan. Bentuk akar sebagian meruncing pada ujungnya yang berguna untuk memudahkan akar menembus tanah.
Akar terdiri dari beberapa bagian, diantaranya rambut akar (bulu akar) dan tudung akar. Rambut akar merupakan jalan masuk air dan zat hara dari tanah ke tumbuhan. Tudung akar berfungsi melindungi akar saat menembus tanah.
Ada dua jenis akar, yaitu akar serabut dan akar tunggang. Akar serabut berbentuk seperti serabut. Bagian ujung dan pangkal akar berukuran hamper sama besar. Semua bagian akar keluar dari pangkal batang. Akar serabut jaga bercabang – cabang. Akan tetapi, ukuran percabangannya tidak terlalu berbeda. Akar serabut dimiliki oleh tumbuhan biji berkeping satu (monokotil), misalnya jagung, padi dan tebu. Akar tunggang memiliki akar pokok. Akar pokok bercabang – cabang menjadi bagian akar yang lebih kecil. Perbedaan ukuran antara bagian akar pokok dan akar cabang nyata. Akar tunggang dimiliki oleh tumbuhan berkeping dua (dikotil), misalnya mangga, jambu dan kacang – kacangan. Akan tetapi, tumbuhan dikotil tidak berakar tunggang jika ditanam dengan cara cangkok atau disetek. Tumbuhan yang dicangkok atau disetek menjadi berakar serabut.
Akar serabut memiliki kesamaan dengan akar tunggang yaitu kedua jenis akar ini dapat bercabang – cabang. Tujuan percabangan akar untuk memperluas bidang penyerapan di dalam tanah. Percabangan akar juga memperkuat berdirinya batang.
Macam - macam akar antara lain :
- Akar gantung
- Akar pelekat
- Akar tunjang
- Akar napas
b. Kegunaan akar bagi tumbuhan
Akar berguna untuk menyerap air dan zat hara, memperkokoh tumbuhan, serta menjadi alat pernafasan. Akar menyerap air dan zat hara dari tanah, akar yang tertancap di dalam tanah berfungsi sebagai pondasi, membuat tumbuhan dapat berpijak kuat di tanah. Dengan begitu tumbuhan dapat bertahan dari terjangan air atau angin. Akar berguna sebagai alat pernafasan tumbuhan. Pada permukaan akar terdapat pori – pori. Melalui pori – pori tersebut udara di dalam tanah terserap ke dalam tumbuhan.
2. Batang
Batang merupakan bagian tumbuhan yang amat penting, dapat diumpamakan sebagai sumbu tubuh tumbuhan.
a Jenis batang
- Batang basah, memiliki batang yang lunak dan berair seperti bayam.
- Batang berkayu, mempunyai kambium. Kambium adalah bagian di dalam batang yang hanya dimiliki tumbuhan batang kayu. Pertumbuhan kambium mengalami dua arah yaitu kearah luar membentuk kulit dan kearah dalam membentuk kayu. Tumbuhan yang berkambium seperti pohon jati, nangka, mangga.
- Batang berumput, mempunyai ruas – ruas yang nyata dan sering berongga, misalnya padi dan rumput - rumputan
b Kegunaan batang
- Batang berguna sebagai pengangkut zat hara dan air dari akar ke daun, batang juga mengangkut makanan dari daun ke bagian tumbuhan yang lainnya.
- Batang sebagai penopang yang tujuannya agar tumbuhan mudah mendapat sinar matahari.
- Pada beberapa tumbuhan, batang berguna sebagai tempat penyimpanan cadangan makanan, seperti pada tebu, kentang dan sagu.
3. Daun
Daun merupakan bagian tumbuhan yang hanya tumbuh dari batang dan berwarna hijau, disebabkan adanya klorofil yaitu zat hijau daun.
a. Bentuk susunan tulang daun antara lain :
- Tulang daun menyirip
- Tulang daun menjari
- Tulang daun melengkung
- Tulang daun sejajar
b. Kegunaan Daun bagi tumbuhan antara lain :
- Sebagai tempat pemasakan makanan atau fotosintesis
- Sebagai alat pernafasan
- Sebagai tempat berlangsungnya proses penguapan
4. Bagian lain tumbuhan
a. Bunga
Bunga sempurna tersusun atas beberapa bagian, yaitu tangkai, dasar bunga, kelopak, mahkota, benang sari dan putik. Tangkai bunga menghubungkan bunga dengan batang, pangkal tangkai bunga agak membesar yang merupakan dasar bunga.
Kegunaan bunga bagi tumbuhan adalah :
- Bunga mempercantik tumbuhan
- Bunga menjadi tempat perkembangbiakan tumbuhan
b. Buah dan biji
Buah dan biji merupakan bagian hasil dari perubahan bunga. Perubahan terjadi dalam proses perkembangbiakan atau proses memperbanyak dirinya.
Kegunaan buah dan biji bagi tumbuh adalah melindungi bakal tumbuhan baru (biji) dari pengaruh buruk dari luar.



BAB III
METODE PENELITIAN


A. Tempat Penelitian
Tempat yang akan dijadikan tempat penelitian adalah SDN Kepunduan kecamatan Dukupuntang kabupaten Cirebon.

B. Langkah – langkah Penelitian
1. Sumber data
Sumber data dalam penelitian ini adalah kelas IV, Kepala Sekolah, dan guru – guru SDN Kepunduan.
2. Populasi dan Sampel
a. Populasi
Menurut Prof. Dr. Suharsimi Arikunto (2006:130) yang dimaksud populasi adalah keseluruhan subjek penelitian.
Nurul zuhriah (2006) menyatakan, “populasi adalah seluruh data yang menjadi perhatian peneliti dalam suatu ruang lingkup dan waktu yang ditentukan.”
Adapun populasi dalam penelitian ini adalah satu kelas siswa kelas IV SDN Kepunduan dengan jumlah 40 orang, yang memeiliki karakteristik yang berbeda – beda.
b. Sampel
Menurut Prof. Dr. Suharsimi Arikunto (2006:131) yang dimaksud sempel adalah sebagian atau wakil populasi yang diteliti.
Nurul zuriah (2006) mengatakan, ”sampel merupakan bagian dari populasi.”
Seluruh populasi dianggap semua dan mempunyai kesempatan yang sama pula untuk dijadikan sampel dari penelitian. Pengambilan sampel dari penelitian ini adalah satu kelas siswa kelas IV SDN Kepunduan dengan jumlah 40 orang siswa, yang terdiri dari siswa laki- laki dan siswa perempuan.
3. Tehnik pengumpulan data pada penelitian ini adalah :
a. Intervieu, yaitu dengan cara menanyakan pada guru dan siswa yang bersangkutan tentang kesulitan dan hambatan yang dihadapi selama proses pembelajaran ilmu pengetahuan alam (IPA) tersebut
b. Tes hasil belajar, untuk mengetahui tingkat ketercapaian dan keberhasilan belajar siswa baik sebelum dan sesudah tindakan dilakukan, yaitu dengan cara membandingkan nilai yang diperoleh
c. Dokumentasi, yaitu dengan mengumpulkan data yang sudah ada dari sekolah yang menjadi objek penelitian
4. Tehnik analisis data
Dalam penelitian ini merujuk pada pendapat Hopkins (Wiraatmadja, 2005 : 169-171) antara lain :
a. Memberi chek, memeriksa kembali keterangan – keterangan atau informasi yang diperoleh selama observasi atau wawancara yang dilakukan dengan cara mengkonfirmasikan dengan guru dan siswa melalui diskusi pada akhir pelajaran
b. Triangulasi, yaitu memeriksa kebenaran data yang diperoleh peneliti secara kolaboratif
c. Audi trail, yaitu mengecek kebenaran prosedur dan metode pengumpulan data dengan cara mendiskusikan dengan bimbingan
d. Expert opinion, yaitu pengecekan terakhir terhadap kesahihan temuan peneliti kepada pakar professional, dalam hal ini penulia mengkonsoltasikan temuan kepada pembimbing atau dosen







DAFTAR PUSTAKA

Suharsimi Arikunto,H., Prof.Dr., Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik, Rineka Cipta, 2006.

Sanjaya, Wina, Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan, Jakarta, Kencana, 2006.

Sanjaya, Wina, Pembelajaran Dalam Implementasi Kurikulum Berbasis Kompetensi, Jakarta, Kencana, 2006.

Wiraatmadja, Rochianti, Metode Penelitian Tindakan Kelas, Bandung, Remaja Rosda Karya, 2006.

Heruman. 2007. Model Pembelajaran doi Sekolah Dasar. Bandung : Remaja Rosdakarya.

Muhibbin Syah, M.Ed. 1995. Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan baru. Bandung : Remaja Rosdakarya

Desmita. 2007. Psikologi Perkembangan. Bandung : Remaja Rosdakarya

Subana. 2000. Statistik Pendidikan. Bandung : Pustaka Setia.

Departemen Pendidikan Nasional. 2000. Permen No. 22 Tentang Standar Isi Untuk Satuan Pendidikan dasar dan Menengah di Sekolah Dasar. Bandung : Remaja Rosdakarya.



PENERAPAN MODEL INKUIRI DALAM MENINGKATKAN PEMAHAMAN SISWA PADA PELAJARAN ILMU PENGETAHUAN ALAM PADA MATERI PEMBELAJARAN STRUKTUR DAN FUNGSI BAGIAN-BAGIAN TUMBUHAN

PROPOSAL

Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat
Untuk Memperoleh Gelar Sarjana
Jurusan Tarbiyah Biologi






Oleh
ERNI WAHYUNI
505470076

Jurusan Tarbiyah Biologi

SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI (STAIN)
CIRELBON
2009

1 komentar:

  1. trima kasih, brkt ada blog ini, saya menjadi dapat gmbar untk mmbuat proposal..

    BalasHapus